Banyuasin – Timbang kepala kebo adalah tradisi menimbang pengantin dengan kepala kerbau hasil sembelihan yang berkembang dalam masyarakat Banyuasin. Tradisi ini terutama dikenal di Pangkalan Balai, ibu kota kabupaten Banyuasin dan sekitarnya, serta dilaksanakan setelah akad nikah sebagai rangkaian dari upacara perkawinan.

 

Dikutip dari Wikipedia, Penyelenggaraan timbang kepala kebo berkaitan dengan nazar yang dikenal dalam Islam atau disebut “sangi” dalam masyarakat Banyuasin. Menurut tradisi ini, orang tua yang dulunya memiliki nazar menyembelih kerbau agar anak mendapatkan jodoh, harus menimbang anaknya dengan kepala kerbau hasil sembelihan setelah anak mendapatkan jodoh. Umumnya, prosesi timbang kepala kebo dilakukan bersamaan dengan acara perayaan pernikahan, dengan tujuan daging kerbau yang disembelih bisa dimasak untuk disantap oleh para tamu undangan perayaan pernikahan.

 

Tidak diketahui kapan dan siapa yang pertama kali mengenalkan tradisi ini. Menurut dokumen yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), timbang kepala kebo sudah berlangsung ratusan tahun dalam masyarakat Banyuasin dan masih terus dilestarikan. Keberdaanya sebagai warisan budaya takbenda Indonesia ditetapkan oleh Kemdikbud pada 2018.

 

Dengan tradisi timbang kepala kebo ini, Aswarini dan Anang melakukan resepsi pernikahan pada Minggu (9/7/2023), sebagai bentuk syukur dan nazar yang sudah menjadi niat orangnya Nazaruddin dan Marina (almarhum).

 

Usai Akad Nikah Aswarini dan Anang langsung di lanjutkan Timbang Kepala Kebo dengan diiringi lagu Laillahaillallah Muhammad Rasulullah menjadikan tradisi timbang kepala kebo penuh hikmat dan sakral. (MCNGRUP)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here