Di tengah era media sosial yang menjadikan popularitas sebagai mata uang baru, kisah seorang tukang bangunan dari Kudus justru menghadirkan paradoks yang jarang mendapat perhatian.
Namanya mungkin asing di ruang publik Indonesia, tetapi karya-karyanya telah lama menjadi rujukan di berbagai pusat studi Islam dunia.
Fenomena ini membuka pertanyaan yang lebih besar, apakah masyarakat hari ini lebih mudah mengenali sosok yang viral dibanding ilmuwan yang sesungguhnya membangun fondasi peradaban?
Pertanyaan itu menemukan jawabannya pada sosok Mbah Riyan, yang di kalangan akademik dikenal sebagai Ibnu Harjo Al-Jawi.
Ia bukan penceramah dengan jutaan pengikut, bukan tokoh yang rutin tampil di televisi, apalagi figur yang aktif membangun citra di media sosial. Namun, kontribusinya terhadap khazanah keilmuan Islam justru melampaui batas negara.
Dalam unggahan akun Instagram @dawuhguru , Sabtu (1/8/2026), dikisahkan bagaimana kehidupan sehari-hari Mbah Riyan nyaris tak berbeda dengan warga kampung lainnya.
“Kalau melihat seseorang memakai baju sederhana, bekerja sebagai tukang bangunan, lalu sore harinya memancing di sungai, mungkin kita akan menganggapnya sebagai orang biasa. Padahal, bisa jadi kita sedang berpapasan dengan orang yang ilmunya dipelajari oleh dunia,” tulis Dawuh Guru.
Narasi itu menggambarkan kenyataan yang sulit dipercaya banyak orang.
Dari Tukang Bangunan Menjadi Penjaga Keaslian Warisan Ulama
Di sebuah kampung sederhana di Kudus, Jawa Tengah, Mbah Riyan dikenal sebagai tukang bangunan. Aktivitasnya setiap hari adalah mengangkat semen, menyusun batu bata, dan mengerjakan proyek bangunan sebagaimana pekerja lainnya.
Seusai bekerja, ia memilih memancing di sungai dibanding menghadiri forum-forum yang menonjolkan dirinya. Namun, di balik rutinitas tersebut, tersimpan kiprah ilmiah yang luar biasa.
Di dunia akademik Islam internasional, ia dikenal sebagai Ibnu Harjo Al-Jawi, seorang ulama muhaqqiq yang telah mentahqiq puluhan kitab klasik karya ulama besar.
Profesi sebagai muhaqqiq bukan pekerjaan yang populer. Justru sebaliknya, pekerjaan ini berlangsung dalam “ruang sunyi” dunia akademik.
Seorang muhaqqiq bertugas meneliti manuskrip lama, membandingkan berbagai salinan, memverifikasi redaksi, mengoreksi kekeliruan penyalin, hingga memastikan teks yang diterbitkan benar-benar mendekati naskah asli.
Tanpa kerja para muhaqqiq, banyak warisan intelektual Islam berpotensi mengalami distorsi bahkan kehilangan autentisitasnya. Karena itu, posisi mereka sesungguhnya sangat strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam lintas generasi.
Karya yang Menjadi Rujukan Dunia
Ibnu Harjo Al-Jawi telah menyelesaikan 12 jilid kitab tahqiq dan menghasilkan lebih dari 100 karya ilmiah yang digunakan sebagai referensi oleh peneliti, akademisi, dan ulama di berbagai negara.(Foto: Tiktok)
Dedikasi tersebut membuahkan hasil yang tidak sedikit.
Ibnu Harjo Al-Jawi telah menyelesaikan 12 jilid kitab tahqiq dan menghasilkan lebih dari 100 karya ilmiah yang digunakan sebagai referensi oleh peneliti, akademisi, dan ulama di berbagai negara.
Beberapa karya yang dikenal luas antara lain Al-Istihsan, Haqiqatuhu wa Hujjiyyatuhu, Rodd Al-Hadits Al-Dha’if bi Al-Kulliyyah, Is’af Al-Muthaali’ karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyah, hingga Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hanbaliy.
Karya-karya tersebut menjadi rujukan penting dalam kajian ushul fikih, hadis, akidah, hingga tasawuf. Artinya, pemikiran yang lahir dari seorang tukang bangunan di Kudus turut membentuk diskursus keilmuan Islam yang dipelajari di berbagai belahan dunia.
Menolak Popularitas, Memilih Kemanfaatan
Yang membuat kisah ini semakin menarik bukan hanya capaian akademiknya, tetapi pilihan hidup yang diambilnya.
Ketika memperoleh MUI Awards, penghargaan bergengsi bagi tokoh yang berjasa dalam pengembangan keilmuan Islam, ia justru memilih tidak hadir.
Dalam unggahan Dawuh Guru tersebut dijelaskan: “Bahkan ketika menerima MUI Awards, beliau memilih tidak hadir. Bukan karena tidak menghargai penghargaan, tetapi karena beliau lebih memilih membangun manfaat daripada membangun nama.”
Pilihan itu menjadi simbol bahwa penghormatan tertinggi bagi seorang alim bukanlah panggung atau sorotan kamera, melainkan keberlanjutan manfaat ilmu yang diwariskannya.
Di saat sebagian orang berlomba membangun personal branding, Mbah Riyan justru membangun otoritas ilmiah tanpa harus membangun popularitas.
Krisis Pengakuan terhadap Ulama di Balik Layar
Selama ini perhatian publik lebih sering tertuju pada ulama yang tampil di ruang publik, sementara para penyunting manuskrip, peneliti, editor kitab, dan muhaqqiq yang menjaga keaslian khazanah Islam justru nyaris tak dikenal masyarakat.
Padahal, tanpa kerja ilmiah mereka, banyak kitab klasik yang menjadi fondasi pendidikan Islam di berbagai pesantren dan perguruan tinggi tidak akan sampai kepada generasi hari ini dalam bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Kisah Mbah Riyan memperlihatkan peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di mimbar, tetapi juga oleh mereka yang tekun bekerja dalam kesunyian, menjaga warisan ilmu agar tetap autentik dan dapat diwariskan kepada umat.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa terkenal dirinya, melainkan seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ikhlas berkarya, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.
Mbah Riyan menunjukkan ukuran yang berbeda. Bahwa ilmu yang diwariskan kepada umat akan terus hidup, melampaui usia manusia, bahkan ketika pemiliknya memilih tetap menjadi tukang bangunan yang pulang sore hari untuk memancing di sungai.














