Partai PKB Gelar Diskusi Bersama Toko-Toko Sejarahwan Di Rejo Tentro Cafe

0
Iklan Ads

PALEMBANG, hbnindonesia,com – Menjelang hari Pahlawan 10 November gelar diskusi bersama Toko-Toko Sejarahwan dan Budayawan.Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumatera Selatan mengenang jejak kepahlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang di Rajo Tentro Cafe jalan Sultan Mahmud Badaruddin II Kecamatan Bukit Kecil Kota Palembang, Minggu (7/11/2021)

 

Kegiatan dari Narasumber diskusi yaitu Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama R.M Fauwaz Diradja, Sejarahwan Dedi Irwanto, Budayawan Vebri Al Lintani dan dihadiri Ketua DPW PKB Sumsel Ramlan Holdan, Ketua DPC PKB Kota Palembang Sutami Ismail, Mahasiswa dan Wartawan

 

Budayawan Vebri Al Lintani mengatakan Bahwa PKB yang telah menginisiasi dan menggerakkan kegiatan diskusi ini termasuk mengundang kawan-kawan dari berbagai Fraksi DPRD Kota Palembang dan PKB adalah partai pertama yang konsen terhadap BKB

 

“Dengan gerakan nyata oleh karena itu kita apresiasi dan juga kita meminta kepada Fraksi-Fraksi DPRD Kota Palembang untuk mendukung BKB menjadi Cagar Budaya karena BKB milik rakyat bukan Orang yang konsekuen mereka saja tetapi milik semua orang,” katanya

 

 

 

“Kalau melihat dari sejarahnya betul-betul membanggakan dimana dulunya Kuto Besak ada keraton didalamnya dan kemudian dijadikan benteng sebagai tempat pertahanan yang ditembaki beberapa kali tidak mampan oleh peluru,” katanya

 

Di menuturkan Vebri juga jika ditempat lain bisa membangun identitasnya, maka Palembang sudah saatnya menikmati atau memanfaatkan warisan budaya ini untuk masyarakat banyak dan kepentingan ekonomi

 

“Diakhir Diskusi kita akan bentuk tim terpadu dari segala unsur yang akan menghasilkan naskah akademiknya dengan kajian-kajian ilmiah tentang BKB dan akan merumuskan bagaimana strategi yang efektif agar bisa cepat difungsikan sebagai cagar budaya seperti tempat lain,”ujarnya

 

Ketua DPW PKB Sumsel Ramlan Holdan mengatakan bahwa dalam diskusi ini ada dua hal yang diambil yaitu nilai perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II mendapatkan gelar pahlawan dimana beliau melawan penjajah Belanda dengan luar biasa dan nilai-nilai dalam bentu fisik mulai dari Sultan Mahmud Badaruddin I sampai Sultan Mahmud Badaruddin II

 

“Dalam bentuk fisiknya adalah Benteng Kuto Besak (BKB) masih dijaga sampai sekarang yang merupakan bagian dari perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II untuk melawan penjajah, karena membuat BKB ini bukan mudah, apalagi luar biasa besarnya dengan menggunakan biaya dan tenaga, artinya keberanian Sultan Mahmud Badaruddin I dan II dengan BKB harus dikenang karena bagian hasil dari budaya tokoh-tokoh kita zaman dahulu sebagai pendiri Palembang,” katanya

 

Ia beberkan bahwa PKB mendorong terkait status BKB, karena sampai sekarang belum menjadi cagar budaya dan bahkan masih ada kendala bahwa dari tim ahli Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang tidak mempunyai data untuk mengusulkan BKB masuk dalam cagar budaya

 

“Saya lihat belum ada keseriusan Pemkot Palembang untuk menyatakan BKB sebagai cagar budaya, oleh karena itu kita minta dan dorong Pemkot Palembang harus ada keberanian untuk melakukan terobosan agar BKB masuk dalam cagar budaya,” ucap Ramlan

 

Ramlan juga mengharapkan seluruh Fraksi-fraksi DPRD tidak hanya Fraksi PKB dan PKS DPRD yang mendukung dan mendorong khususnya BKB menjadi cagar budaya karena ini merupakan tugas sebagai partai politik dan kedewanan untuk kepentingan Kota Palembang

 

“Khusus Pemkot Palembang, bila perlu Pemerintah Provinsi (Pemprov) bisa mengintervensi dalam rangka percepatan BKB menjadi cagar budaya, karena masih ada persoalan yang ditinggalkan dimana BKB masih dikuasi oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Untuk mengambilnya menjadi cagar budaya kita pelajari terlebih dahulu dari sisi hukum dan sosiloginya dimana agar bisa dinikmati masyarakat Sumsel,”jelasnya

 

Dia mengungkapkan bahwa Keluarga Sultan Mahmud Badaruddin II tidak bisa menikmati dan tinggal di BKB bahkan diusir padahal sultan dibesarkan disana dan yang bangunnya juga Sultan

 

“Alhamdulillah keluarga Sultan tidak menuntut untuk tinggal disana, tetapi mereka menuntut agar bisa dinikmati dan dijadikan Destiwisata Kota Palembang,” tutup Ramlan (ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here