MUARA ENIM – Di tanah Melayu tepat nya di Pulau Sumatra Provinsi Sumatera Selatan bernama Tegal Rejo — tanah lapang yang senantiasa membawa kemakmuran dan kesejahteraan — lahir sebuah kesenian yang hingga kini tetap menjadi kebanggaan warga desa, kesenian tersebut adalah Reog di Desa Tegal Rejo, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim yang pertama kali didirikan pada tahun 1951. Rabu, (26/8/2026).
Pencetus sekaligus pendirinya bukan orang lain, melainkan Bapak Karto Darsono, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa. Beliau bukan sekadar pemimpin pemerintahan, melainkan sosok yang peduli pada kebersamaan dan kehidupan budaya warganya. Dengan semangat gotong royong, Bapak Karto Darsono mengumpulkan pemuda-pemudi dan warga desa untuk bersama-sama membentuk kelompok Reog yang kini telah berusia lebih dari 75 tahun.
📌 ARTI NAMA DAN MAKNA YANG TERKANDUNG
Nama “Tegal Rejo” sendiri memiliki makna yang dalam: Tegal berarti tanah lapang atau dataran terbuka, sedangkan Rejo berarti makmur, sejahtera, dan bahagia. Secara keseluruhan, nama desa ini adalah doa dan harapan leluhur agar desa yang berada di tanah lapang ini senantiasa makmur, damai, dan sejahtera.
Uniknya, kata “Rejo” beririsan dengan kata “Reog”. Hal ini menjadikan kesenian Reog bukan sekadar hiburan semata, melainkan identitas dan jiwa desa itu sendiri. Reog Tegal Rejo lahir dari tanah ini, tumbuh bersama warganya, dan menjadi simbol harapan agar desa tetap rukun dan makmur.
🎭 CIRI KHAS REOG TEGAL REJO
Reog Tegal Rejo memiliki keunikan dan ciri khas yang membedakannya dari Reog di daerah lain, antara lain:
– Gerakan yang lincah dan ceria — mencerminkan semangat warga desa yang sederhana namun penuh kegembiraan;
– Irama musik yang dinamis — diiringi kendang, kenong, gong, saron, dan suling yang disesuaikan dengan selera dan karakter warga setempat;
– Kostum yang sederhana namun gagah — mengutamakan kesederhanaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat pedesaan;
– Nilai kebersamaan yang kuat — setiap penampilan selalu melibatkan banyak orang, menunjukkan bahwa kekuatan Reog Tegal Rejo terletak pada persatuan warganya.
Tokoh-tokoh yang tampil pun sama pentingnya: Warok yang membawa Dadak Merak (topeng besar kepala singa bermahkota merak), Jathil penari berkuda-kudaan, Bujang Ganong yang lucu dan menghibur, serta Klono Sewandana sang raja sakti. Semua menyatu dalam satu pertunjukan yang penuh makna.
💖 ALASAN LELUHUR MENDIRIKAN REOG
Ketika Bapak Karto Darsono mendirikan Reog di desa ini, tujuannya bukan hanya untuk hiburan. Ada makna yang lebih dalam di balik langkah beliau:
1. Mempererat persatuan dan kerukunan warga — agar warga saling mengenal, bekerja sama, dan hidup rukun;
2. Sarana hiburan yang positif dan membangun — mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat dan menjauhkan dari hal-hal negatif;
3. Melestarikan budaya leluhur — agar anak cucu tetap mengenal dan mencintai warisan nenek moyang;
4. Simbol kesejahteraan desa — Reog dipercaya membawa berkah dan menjaga desa tetap aman, damai, dan makmur.
🌱 MENJAGA WARISAN UNTUK MASA DEPAN
Selama lebih dari 75 tahun, Reog Tegal Rejo telah melewati berbagai masa. Dari zaman pendirian Bapak Karto Darsono hingga masa kini, kesenian ini terus hidup dan berkembang. Tetap tampil di acara 17 Agustus, Bersih Desa, pernikahan, dan berbagai kegiatan masyarakat.
Namun, tugas menjaga kelestariannya kini berada di tangan generasi muda. Anak-anak desa Tegal Rejo kini rutin berlatih, belajar gerakan, menghafal irama, dan merasakan kebanggaan menjadi bagian dari Reog Tegal Rejo. Mereka adalah penerus cita-cita Bapak Karto Darsono — penerus yang akan memastikan bahwa Reog Tegal Rejo tetap berdiri tegak, sebagaimana arti namanya: selalu makmur, selalu bersatu.
✨ PENUTUP
Reog Tegal Rejo bukan sekadar tarian. Ia adalah sejarah, identitas, dan harapan. Lahir tahun 1951 atas gagasan Bapak Karto Darsono, tumbuh di tanah yang bernama Tegal Rejo, dan hidup di hati warganya hingga kini.
“Reog bukan hanya tarian yang kita tampilkan. Reog adalah kita — kita yang bersatu, kita yang makmur, dan kita yang terus menjaga warisan leluhur agar tetap bersinar selamanya.”
Semoga Reog Tegal Rejo terus berkarya, terus dihormati, dan terus menjadi kebanggaan Desa Tegal Rejo, Lawang Kidul, Muara Enim — selamanya.
🦁 Ketua Reog Singo Mudo Bantar Angin — Tegal Rejo, Muara Enim
Nama kelompoknya adalah Reog Singo Mudo Bantar Angin (bukan “Bandar Angin”). Berdasarkan sumber berita terkini:
📌 Ketua Paguyuban Reog Singo Mudo Bantar Angin:
Bapak Hendri Susilo (sering juga disebut Hendri S)
– Berkantor/bermarkas di: Balai Adat Guno Mulyo, Desa Tegal Rejo, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan
– Usia kelompok: 75 tahun (berdiri sekitar 1951, sama dengan yang kita bahas sebelumnya)
– Status: Aktif tampil di berbagai acara desa, kecamatan, hingga kabupaten
Jadi yang Anda maksud “Bandar Angin” itu sebenarnya Bantar Angin — dan ketuanya saat ini adalah Bapak Hendri Susilo. Semoga membantu! 🦁✨ Demikian artikel tentang Reog Singo Mudo Bantar Angin, Desa Tegal Rejo.
Terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada Bapak Hendri Susilo, Ketua Paguyuban Reog Singo Mudo Bantar Angin, atas bimbingan, dukungan, dan pengabdiannya demi kelestarian budaya leluhur. Terima kasih juga kepada seluruh pengurus, anggota penari, dan warga Desa Tegal Rejo yang terus mendukung Reog kita.
Semoga Reog Singo Mudo Bantar Angin semakin jaya dan tetap menjadi kebanggaan desa kita tercinta. Mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penulisan ini.
Penulis Artikel : Nabila Raysha Lutfita
Mahasiswa : Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026 Universitas Serasan Muara Enim
























